PANDANGAN MENURUT PARA AHLI
1. Menurut John Dewey (1859 - 1952)
John Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika).Teori Dewey tentang sekolah adalah "Progressivisme" yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri.Maka muncullah "Child Centered Curiculum" dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya "My Pedagogical Creed" bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Aplikasi ide Dewey anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik baru peminatan.
Bandingkan pendapat Dewey tsb dengan sabda Rasulullah SAW "didiklah anak-anakmu untuk jamannya yang bukan jamanmu"
Bagi Dewey anak sesungguhnya adalah salah satu pihak yang rentan terhadap penindasan. Bentuk penindasan ini tampak dalam pendidikan. Karena itu, Dewey berupaya agar pendidikan sungguh-sungguh memberi perhatian yang lebih besar kepada anak terutama dalam proses realisasi diri si anak. Dalam proses pendidikan, Dewey melihat anak sebagai mahkluk yang belum dewasa belum berkembang. Di pihak lain makna, nilai dan tujuan yang dihayati masyarakat berinkarnasi dalam diri orang dewasa. Karena itu letak proses pendidikan berada dalam interaksi dua pihak ini. Dewey menyatakan hal ini berdasar pada penelitiannya atas pendidikan anak sebelum dan adanya proses industri dalam masyarakat.
Dewey meyakini bahwa pusat dari kurikulum seharusnya mencakup pengalaman anak. Kurikulum bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri. Jika kurikulum menjadi tujuan pendidikan itu berarti anak berhenti berpikir berhenti merenungkan pengalamannya dan pada akhirnya kematian masyarakat itu sendiri. Pendidikan harus membawa konsep mengenai perubahan dan perkembangan masyarakat. Menurut Dewey sekolah dan kurikulumnya harus mengajarkan hal-hal yang berguna bagi anak dalam kehidupan sehari-hari serta akhirnya mampu menciptakan masyarakat yang lebih baik. Kurikulum harus mengabdi kepada anak sehingga dengan bantuan kurikulum anak dapat merealisasikan dirinya mewujudkan bakat-bakat, nilai, sikap untuk hidup dalam masyarakat. Dengan kata lain apa yang tersaji dalam kurikulum adalah interaksi antar anak didik serta interaksi guru dan murid. Bukan relasi menguasai atau pun relasi subjek-objek di mana anak adalah pihak yang harus menerima tanpa bertanya. Interaksi ini bukan hanya persoalan interaksi fisik tapi juga bersifat sosiologis. Artinya nilai, tujuan, sikap, makna telah termasuk di dalamnya. Seringkali hal-hal demikian disebut sebagai kurikulum tersembunyi.
Adapun prinsip dasar sekolah john dewey ialah :
a.Pengalam awal anak disekolah mencerminkan kehidupan dirumah.
b. Anak-anak adalah bagian dari masyarakat disekolah yang berfokus pada kerjasa sama.
c. Pembelajaran difokuskan pada masalah-masalah yang dipecahkan anak.
d. Motiva terkait pengalaman anak.
2. Maria Montessori (1870 - 1952)
Pada awalnya Montessori mengembangkan sistem pendidikan bagi para penyandang keterbelakangan mental karena ia sangat terpengaruh oleh Edward Seguin dan Jean Itard. Kemudian ia mengembangkan metode pembelajaran bagi anak normal berdasarkan keteguhan religiusitasnya. Montessori dipercaya mengelola Casa dei Bambini atau rumah anak-anak. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk menguji dan memperbaiki metodenya. Metode Montessori merupakan sistem pendidikan di PAUD dan SD menitikberatkan pada kegiatan mandiri siswa dan observasi klinis guru. Sistem tersebut menunjukkan bahwa
proses pendidikan berlangsung dalam lingkungan belajar yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak memanfaatkan aktivitas jasmani untuk memfasilitasi anak menguasai konsep dan keterampilan praktik serta menggunakan fasilitas otodidak (koreksi diri) untuk mengenalkan beragam konsep.
Tujuan Motode Maria Montessori Adapun tujuan metode Maria Montessori dalam mengembangkan potensi anak adalah
1. Membantu para orang tua dalam menerapkan pola pengajaran yang efektif bagi anak mereka.
2. Membantu anak-anak didik dalam mengembangkan tingkat intelektual, psikomotor dan efektif yang ada pada diri mereka.
3. Membuat anak dituntut untuk dapat berkembang sesuai dengan periode perkembangannya saat mereka mulai peka terhadap tugas-tugasnya.
4.Mengajark pada anak cara belajar yang efektif dan optimal melalui permainan.
5. Mengembangkan keterampilan yang menekankan pada pentingnya anak bekerja bebas dan dalam pengawasan terbatas.
6.An diajarkan untuk dapat berkonsentrasi dan berkreasi.
7. Guru hanya sebagai pengamat dan pembimbing karena anak dibiasakan untuk memilih sesuai dengan keinginan sendiri.
3. Jean Piaget (1896 - 1980)
Piaget selalu tertarik dengan cara manusia belajar dan berkembang secara intelektual dimulai dari lahir dan berlanjut di sepanjang hayat. Ia mendedikasikan hidupnya untuk melakukan eksperimen mengamati anak-anak (termasuk anakanak kandungnya) dan mengembangkan serta menulis tentang teori perkembangan kognitif dalam pembelajaran. Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif anak. Teori Piaget banyak mempengaruhi perkembangan pendidikan. Berlandaskan Teori Piaget para ahli mengembangkan berbagai teori perkembangan anak seperti perkembangan bahasa dan moral. Bahasan secara rinci dari teori belajar yang dikembangkan oleh Piaget disajikan pada bagian peserta didik dari kajian teoritik ini
Jean Piaget bersama dengan Lev Vigotsky adalah dua orang ahli psikologi yang pertama kali mencetuskan teori kontruktivisme . Pada dasarnya paham konstruktivis ini mempunyai asumsi bahwa anak adalah pembangun pengetahuan yang aktif. Anak mengkonstruksi/membangun pengetahuannya berdasarkan pengalamannya. Pengetahuan tersebut diperoleh anak dengan cara membangunnya sendiri secara aktif melalui interaksi yang dilakukannya dengan lingkungan. Menurut paham ini anak bukanlah individu yang bersifat pasif, yang hanya menerima pengetahuannya dari orang lain. Anak adalah makhluk belajar yang aktif yang dapat mengkreasi/mencipta dan membangun pengetahuannya sendiri.
Berdasarkan asumsi tadi nampak bahwa pendekatan ini menekankan pada pentingnya keterlibatan anak dalam proses pembelajaran. Untuk itu maka guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, akrab, dan hangat melalui kegiatan bermain maupun berinteraksi dengan lingkungan sehingga dapat merangsang partisipasi aktif dari anak.
Piaget dan Vigotsky sama-sama menekankan pada pentingnya aktivitas bermain sebagai sarana untuk pendidikan anak terutama yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas berfikir. Lebih jauh mereka berpendapat bahwa aktivitas bermain juga dapat menjadi akar bagi perkembangan perilaku moral. Hal itu terjadi ketika dihadapkan pada suatu situasi yang menuntut mereka untuk berempati serta memenuhi aturan dan perannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Interaksi yang dilakukan anak dengan lingkungan sekitarnya, baik itu orang dewasa maupun anak-anak yang lainnya dapat memberikan bekal yang cukup berharga bagi anak, karena dapat membantu mengembangkan kemampuan berbahasa, berkomunikasi serta bersosialisasi dan yang tidak kalah pentingnya adalah melalui interaksi tersebut anak akan belajar memahami perasaan orang menghargai pendapat mereka sehingga secara tidak langsung anak juga berlatih mengekspresikan/menunjukkan emosinya.
Sesi tanya jawab:
1. contoh dari tujuan maria mantessori dalam pengembangan potensi anak ?
Jawab: